Ia pernah menceburkan diri menjadi babysitter ‘pengasuh anak’, sales ‘tenaga penjual’, pembantu di dapur sebuah panti, mengurus asrama, pelayan toko, bahkan hingga pekerja apotek. Bukanlah minatnya, Vera melakukan itu semata untuk membantu orang tuanya. Namun… ia tetap mengejar apa yang menjadi minatnya.
Masa kecilnya terbilang berat. Saat sang ibu mengandungnya, ibu Vera terjatuh dari tangga. Insiden itu membuat Vera terlahir dengan kondisi sumbing, bibirnya pun robek, dan ia terlahir tanpa langit-langit mulut. Kondisi itu yang membuatnya tidak bisa berbicara. Saat bayi, ia tak pernah merasakan air susu ibunya. Keadaannya itu membuat Vera harus mengonsumsi susu formula melalui botol infus atau menggunakan pipet.


Beberapa operasi pun dilakukan untuk Vera. Namun, tak banyak yang berhasil. Dengan kondisi fisiknya ini, Vera tumbuh menjadi seorang yang pemalu, penakut, dan cenderung menyendiri. Ia terkadang getir dengan kondisinya sampai sering merasa tidak berguna dan minder. Ia merasa frustasi. "Di pergaulan tidak mudah, di kehidupan nyata pun para penyandang disabilitas selalu didiskriminasi," katanya. Namun, Vera bersyukur karena ia mendapat pelukan dan dukungan dari keluarganya.
Vera membuktikan bahwa dengan kerja keras dan tekad yang kuat, segala keterbatasan bisa dilalui.


"Di DCE, saya belajar untuk lebih disiplin. Dulu, saat usaha sendiri, saya bisa bekerja sesuka hati. Tapi di DCE, ada deadline ‘tenggat waktu’ yang harus dipenuhi dan standar kualitas yang ketat," katanya saat mengenang.
Orang tuanya memilih untuk tidak memasukkannya ke SLB. Sang ibu ingin anaknya berkembang dan bergaul di lingkungan biasanya. Vera memiliki mimpi menjadi dokter. Namun, sayangnya Vera harus menguburnya karena keterbatasan finansial. Dengan begitu luar biasa semangatnya, ia tidak putus asa. Ia tetap bersikeras mencari pekerjaan untuk membantu perekonomian keluarganya.
Setiap pulang bekerja, Vera rutin mengikuti sebuah kursus menjahit. Ia pun pernah bekerja di butik menjadi penjahit, bahkan menjadi pembuat pola dan baju sampel. Ia sudah menekuni ini sedari SMP. Inilah pekerjaan yang akhirnya sesuai dengan minatnya. Vera sudah tertarik dengan pelajaran tata busana sejak ia ada di bangku SMP. Tiap pesanan yang datang bagaikan sebuah siraman berkat bagi Vera.
Vera bergabung di DCE karena diajak oleh temannya, Azizah, yang juga merupakan perajin rajut di DCE yang sudah terlebih dahulu bergabung. Vera memiliki tekad yang kuat untuk bertumbuh di DCE. Anita pun bisa melihatnya. Ditambah, karya-karya Vera begitu berpotensi, apalagi ia memang memiliki bekal kemampuan dalam menjahit. Sempat beberapa kali Vera menangis karena tantangan yang ia rasakan. Namun, tak pernah ia ingin menyerah. Banyak sekali pembelajaran yang ia rasakan semenjak bergabung.
Karya Pengrajin 1
Use this space to introduce yourself or your business to site visitors. Share who you are, what you do, and the purpose of this website.
Tapi berikan kami peluang kerja, kesempatan, atau mungkin modal usaha, agar kami bisa berikhtiar untuk kesejahteraan hidup kami."
"Kami para penyandang disabilitas ingin mandiri, punya arti, dan butuh dukungan dari semua pihak. Jangan beri kami uang, karena kami bukan pengemis.
Deo Caritas Eterna
Melalui berbagai program pemberdayaan dan karya kreatif, Yayasan Deo Caritas Eterna berupaya membuka ruang lebih luas bagi para penyandang disabilitas untuk tumbuh, berkarya, dan hidup mandiri dengan penuh martabat sebagai wujud dari cinta yang memberi harapan.
© 2025 Deo Caritas Eterna. All rights reserved.
Offline Store
Online Store
Social Media
Contact Us


